Mata
Kuliah :
Sastra Lisan
Nama :
Candra Irawan
Nim :
136802
Prodi :
Bahasa dan Sastra Indonesia 2013 A, STKIP PGRI Jombang
Asal-Usul
Desa Kepung-Kediri
Desa Kepung merupakan sebuah desa yang terletak di bagian timur Kabupaten
Kediri, dan menjadi bagian dari Kecamatan Kepung. Desa ini saat ini terbagi
menjadi sebelas dusun yang di antaranya adalah Dusun Kepung Barat, Kepung
Tengah, Kepung Timur, Karangan, Sumber Gayam, Sumber Pancur, Krembangan,
Sukorejo, Purworejo, Jati Mulyo, dan Karang Dinoyo. Desa Kepung sat ini dihuni
lebih dari sepuluh ribu jiwa yang tersebar di sebelas dusun tersebut. Keadaan
masyarakat desa kepung saat ini masih sangat kental dengan kebudayaan terbukti
dari banyaknya sanggar Jaranan dan Bantengan yang hingga saat ini masih aktif.
Masyarakat desa Kepung juga masih tetap mempertahankan ritual bersih desa yang
dilaksanakan pada hari Jumat Legi di bulan syuro. Ada banyak cerita yang
berkembang di masyarakat yang menjelaskan tentang asal-usul nama desa Kepung.
Di antaranya adalah sebagai berikut.
Versi
1.
Berdasarkan penuturan yang disampaikan oleh Umar Fauzi,
mantan kepala desa Kepung, mengatakan bahwa desa kepung ini berawal dari pembukaan
hutan yang dilakukan oleh Ki Onggo merto. Ki Onggo Merto ini merupakan keturunan
Raden Patah dari Kerajaan Demak. Berdasarkan silsilah kerajaan, sejarah tentang
ki Onggo merto ini bermula dari perpecahan kerajaan Mataram menjadi dua yaitu
kerajaan Surakarta yang dikuasai oleh Susuhunan Pakubuwono III dan kerajaan
Ngayogyokarto dikuasai oleh Pangeran Mangku Bumi ( Hamengku Buwono III). Pada
waktu itu kembali terjadi perselisihan tentang perebutan kekuasaan kerajaan. Sehingga
mengakibatkan Kerajaan Ngayogyakarto terpecah menjadi dua yaitu daerah Kasultanan
dan daerah Pakualaman. Sedangkan Surakarta juga terpecah menjadi dua bagian
yakni daerah Kasunanan dan Daerah Mangku Negaran. Nah daerah Mangku Negaran ini
diserahkan kepada pangeran Sumber Nyowo yang bergelar Magku Negoro I yang
merupakan ayah dari Ki Onggo Merto.
Kemelut yang terjadi di daerah kerajaan semakin membuat
rakyat menderita karena banyak terjadi permusuhan sebagai akibat dari perebutan
kekuasaan kerajaan. Akhinya karena merasa tidak mendapatkan kenyamanan di
kerajaan beberapa punggawa kerajaan (keraton) memutuskan untuk menyelamatkan
diri dan meninggalkan kemelut yang semakin membara di kerajaan. Para punggawa
kerajaan yang lari tersebut menyebar di seluruh penjur Nusantara.
Dua orang punggawa kerajaan yang berhasil meloloskan diri
dari kemelut yang terjadi di kerajaan adalah Ki Onggo Merto dan saudara kembarnya,
Nyi Ageng Sapujagad. Dan Ki Onggo Merto dan Nyi Ageng Sapujagad tersebut
merupakan darah mataram yang selamat karena mereka berdua melarikan diri ke
daerah timur, tepatnya di Daerah Mojokerto. Setelah beberapa tahun kemudian Nyi
Ageng Sapujagad meninggal dunia dan dimakamkan di daerah Trowulan, Mojokerto.
Setelah sepeninggalnya Nyi Ageng Sapujagad , Ki Onggo
merto memutuskan untuk meninggalkan Mojokerto dan menuju arah selatan menuju
daerah yang baru. Di tempat ini beliau membuka hutan dan mendirikan sebuah
pemukiman baru dengan maksud menyebarkan agama Islam. Untuk menjalankan
kehidupan sehari-hari beliau berhasil membuat sumur, tempat mandi, lumpang, dan
lesung. Namun belum sempat beliau menyebarkan agama Islam di tempat baru ini, Belanda
telah datang menyerang dan mengepung daerah tersebut. Sehingga untuk menghindari Belanda, Ki Onggo Merto
menyelama\tka diri ke arah timur menuju Gunung Semeru.
Semenjak saat itulah tempat peristirahatan Ki Onggo Merto
tersebut dijadikan sebuah desa yang bernama desa Kepung untuk mengenang
peristiwa pengepungan Belanda tersebut. Dan hingga saat ini setiap tahunnya
masyarakat desa setempat melakukan ritual bersih desa sebagai wujud rasa syukur
ke hadirat Alloh SWT sekaligus untuk menghormati jasa Ki Onggo Merto dalam
membuka desa. Dan sumur yang dibuat oleh ki onggo Merto yakni sumur Upas dan
sumur Dui kini menjadi tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat.
Versi
2.
Menurut Mbah Jumani, kuncen punden desa kepung,
menceritakan bahwa asal usul nama desa Kepung ini berawal dari jaman kerajaan.
Yakni dari Masa kerajaan Mataram. Desa kepung ini berkaitan dengan daerah yang
ada di sekitarnya yakni daerah Kandangan dan Pare. Kandangan memiliki arti
kandang atau rumah, yang berarti merupakan sebuah daerah atau tempat yang
dijadikan sebagai tempat pemukiman bagi punggawa kerajaan yang melarikan diri
dari kemelut yang terjadi di daerah kerajaan. Sedangkan Pare berasal dari kata
palerenan yang memiliki arti tempat peristirahatan. Dikisahkan bahwa di Pare
ini menjadi tempat peristirahatan bagi para punggawa kerajaan yang melarikan
diri dari kerajaan sebelum mereka melanjutkan perjalanan baru ke arah timur.
Selanjutnya Kepung merupakan sebuah tempat baru yang ada setelah pembukaan
lahan yang dilakukan oleh punggawa kerajaan . Di sini mereka membuat sebuah
pemukiman baru, namun akhirnya mereka melarikan diri karena Belanda telah
mengepung daerah tersebut. Hingga akhirnya daerah pengepungan Belanda tersebut
sekarang dikenal oleh masyarakat hingga saat ini dengan sebutan desa Kepung.